Afrin

   Pekerjaan adalah sesuatu yang tak pernah berujung. Mau hari minggu,hari libur nasional,ataupun libur karena suatu alasan. Yang namanya kerja nggak ada habisnya. Seperti seseorang yang sangat aku kenal dengan baik. Dia adalah segalanya,bagiku. Ini adalah cerita bahwa hidup tak pernah ada yang tahu. Apa yang akan terjadi hari ini,esok,ataupun masa depan. Kita tak tahu.

   **

   Mestinya waktu itu dia makan malam bersama teman-teman yang sudah lama tak ditemuinya. Tapi ditengah obrolan yang kian asyik,tiba-tiba hp-nya berdering. Ada panggilan masuk. “Hheeshh...siapa lagi? Ganggu aja!”,gumamnya.

  Begitu melihat nama si penelepon,ia pun semakin merasa kesal. “Halo.....”.“Okay bu,sekarang saya dalam perjalanan menuju rumah”,jawabnya. Dengan raut wajah menyesal ia pun meminta maaf kepada teman-temanya,karena harus pergi terlebih dahulu. Padahal ini adalah momen yang ia tunggu selama 10 tahun.

 Setelah lulus SMA mereka berpisah,mencari jati diri masing-masing. Ada yang kuliah di luar negeri,luar kota,ada yang merantau untuk bekerja. Hanya dia yang masih menetap di lingkungan,dan suasana yang sama. Hingga akhirnya menikah dan mempunyai seorang anak. Ketika hal itu terjadi pun tak banyak yang berubah. Dia masih berada di kota yang sama.

 **

 Wanita yang bernama Afrin itu pun segera keluar dari kafe. Taksi yang dipesannya sudah berada di luar. Syukurlah tak perlu menunggu terlalu lama.

 Sesampainya di rumah ia langsung berlari menghampiri wanita yang diteleponnya tadi. Ia meminta maaf karena membuatnya harus menunggu.

 Walaupun sedikit kesal dan jengkel (entah apa alasannya),tapi mau bagaimana lagi. Baju yang harus dipakai besok untuk bekerja masih berada di laundry. Jadi mau tidak mau dia harus segera mengambilnya. Sebenarnya dia juga merasa bersalah karena sudah merepotkan pemilik laundry yaitu Afrin. Padahal laundry sudah tutup dan ini sudah pukul 9 malam. Karena merasa tak enak wanita tersebut akhirnya meminta maaf.

 Seusai menangani pelanggan,Afrin pun duduk sambil meminum segelas air putih. Hari ini adalah hari yang melelahkan,pikirnya. Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti ini?? ceroboh sekali. Eitts...tapi aku tidak sepenuhnya salah. Aku adalah orang yang selalu berada di rumah,selalu menyetrika,menggosok,dan mencuci pakaian orang lain. Apa aku tidak bisa satu hari saja pergi bersenang-senang?? Argghh..., batinya kesal.

 Tak terasa,ini sudah waktunya untuk pergi menjemput anaknya yang berada di rumah kakek neneknya. Dalam perjalanan ia berpikir kembali. Bukankah ini adalah hal yang sangat langka. Ada yang bisa menjaga anakku disaat-saat seperti ini? Suamiku juga sedang berada di luar kota. Ahh...aku tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik. Aiiish...

 "Assalamualaikum",ia membuka pintu.

 "Nasya...sayang ayo pulang..."

 Ternyata yang dicari sudah tidur. Terpaksa ia harus menggendongnya sampai rumah. Ibu dan ayah pasti kerepotan mengurus Nasya,batin Afrin.

 **

 Embun yang menetes di dedaunan dan udara yang terasa dingin membuat semua orang tak mau meninggalkan tempat tidurnya.

 Seperti biasa,pagi-pagi sekali Afrin repot mengurus kebutuhan Nasya,maklum ia masih berumur 6 tahun. Memasak,menyiapkan seragam,menyiapkan bekal,dan membersihkan rumah. Setelah semua urusan rumah selesai,ia membuka toko laundrynya.

 "Afrin laundry"sebuah banner terpampang jelas di depan toko. Afrin sedang sibuk mengutak-atik kalkulator_menghitung saldo,mengecek parfum,sabun,dan pakaian yang harus disetrika hari ini.

 Selang beberapa menit datanglah pelanggan untuk mengirimkan pakaian. Pelanggan tersebut tidak langsung pergi melainkan mengomel tentang kualitas laundry-nya. Entah parfumnya kurang wangi atau....entahlah. Sudah sering sekali terjadi hal seperti ini. Jadi bagi Afrin ini adalah hal yang biasa.

 Afrin sudah berkutat dengan laundryan selama 5 tahun tepatnya setelah ia menikah. Suaminya sering kerja ke luar kota. Jadi Afrin harus mengurus rumah dan anaknya sendiri. Hanya,untuk laundry ia membutuhkan seorang asisten. Karena tidak mungkin ia mengurus pakaian orang seorang diri.

 Resiko mengurus laundry adalah pertama,tak ada waktu untuk berlibur. Jika mau keluar pun itu tidak akan lama. Merasa seperti di kejar seorang rentenir,tergesa-gesa ingin segera pulang,takut ada orang yang akan mengirim atau mengambil pakaian. Kedua,walaupun hari Minggu atau waktunya toko tutup tetap saja,ada saja orang yang datang ke toko. Ketiga,seringkali ketika Afrin akan makan,tidur,mandi,atau apapun....orang datang me-laundry. Afrin harus bangun pagi. Jika ingin tidur lagi jangan sampai melewati jam 6. Banyak orang yang sudah pergi keluar rumah sekitar pukul tersebut. Entah bekerja,ke pasar,atau apapun. Jika Afrin sampai telat,bisa dibayangkan betapa kaget dan hebohnya. Lagi tidur asyik-asyik tiba-tiba terdengar ada orang yang memanggil. Pastinya langsung beranjak bangun dan penampilan pun tak karuan. Pernah suatu saat karena saking gugupnya Afrin lupa kalau masih menggunakan pakaian tidur sangat minim. Sangatlah tak pantas. Sungguh memalukan sekali.

 Tapi bekerja di laundry tidaklah seburuk itu. Salah satu dampak baiknya adalah ia bisa melihat anaknya setiap hari. Mengetahui tumbuh kembang anak,memberikan kasih sayang penuh kepada anaknya. Sampai-sampai ia berpikir mungkin saat ini banyak ibu yang tak seberuntung dirinya. Ia tak pernah sedetikpun meninggalkan putrinya. Maka dari itu ia selalu bahagia walaupun dengan segala kejadian atau perkataan tak menyenangkan selama bekerja di laundry. Karena ketika kita bahagia kita bisa melewati semuanya. 

 

Menikmati artikel ini? Daftarkan Email Anda untuk Berlangganan

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Tentang Penulis

Melakukan hal kecil.