Kejayaan Mataram Lombok dibawah Anak Agung Gde Ngurah Karangasem

Kejayaan Mataram Lombok dibawah Anak Agung Gde Ngurah Karangasem

A

nak Agun Gde Ngurah Karangasem naik tahta menjadi raja Lombok pada tahun 1872. Sebelum ini raja Lombok adalah kakaknya Anak Agung Nglurah Ktut Karangasem (Dewata di rum, Metaram), sejak 1838-1872. Nama abhiseka Anglurah Ktut Karangasem ini adalah nama yang kelima dari Sub Dinasti Anglurah Ktut Karangasem yang memerintah di Karangasem dan Lombok. Kerajaan Karangasem pada abad XVII dan abad VXIII diluksikan oleh Van Eck dalam tulisannya di Tijdschrift Van Ned. Indie 1878. Lebih jauh baca W.Cool Lombok Expeditie halaman 218.

                Sejak kejayaan kerajaan Metaram Lombok, seluruh wilayah pulau Lombok dan Karangasem (Bali) berada dalam kekuasaannya. Sewaktu konsolidasi pemerintahannya, daerah –daerah Sasak di Lombok Timur di sebelah timur sungai Babak dan sungai Blingbing pada mulanya diberi Hak Otonomi yang luas, tanpa kewajiban membayar utpeti. Mereka diperindah oleh para prewangsa Sasak seperti Dene Laki Batu dan Dene Laki Galiran dan berpusat di Koripan. Kewajibannya hanya setia kepada raja, dan sekali –sekali menghadap raja di puri Metaram. Demikian pula dengan Praya, Mantang, Kopang, Rarang, dan Masbagik.

                Akan tetapi kemudian ternyata dikalangan pemimpin Sasak saling hasut untuk memberontak pada raja yang mengakibatkan otonomi ini ditinjau kembali, dan pemerintah disana diatur langsung di bawah Metaram. Tentang ini baca Babad Sakra dan buku Sejarah Nusa Tenggara Barat, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen P&K 1977/1978 halaman 89.90.

                Tata pemerintahan di lombok waktu itu diatur dalam Paswara (undang-undang kerajaan) yang ditetapkan dalam sidang Baudanda (staf kerajaan) yang terdiri atas Punggawa, Mantri, Hulubalang, dan Pendeta Siwa, Pendeta Budha. Keputusan-keputusan mengenai penghasilan tanah dan pembagiannya, maupun dibidang peradilan berada ditangan Baudanda dan disahkan oleh raja. Demikian pula kewenangan-kewenangan lain yang meliputi bidang sosial, ekonomi, dan sosial budaya.

                Dalam konsolidasi ini pula ditetapkan wilayah kerajaan meliputi pulau Lombok dan Karangasem(sejak 1850). Bendera kerajaan dengan warna : merah putih-biru-putih-merah berkibar di Ampenandi puri Metaram dan Cakranegara. Sejak 1839 telah disempurnakan lagi hubungan kerajaan Lombok dengan luar negeri, terutama denga Inggris di singapura, dan berhasil pula membeli dua kapal dari Inggris yang diberi nama Sri Cakra dan Sri Metaram. Pendekatan oleh Belanda dimulai baru pada permulaan 1843. Sewaktu Belanda mau mengatur pelayaran di Samudera Hindia, ia minta agar kapal-kapal Inggris yang datang dari Singapura boleh berlabuh di Ampenan, tetapi kapal-kapal Inggris yang datang dari Surabaya dan pelabuhan-pelabuhan lain yang merupakan pelayaran pantai dilarang berlabuh di Ampenan.

A

turan ini yang merupakan pelayaran inter-insuler diprotes oleh Inggris, karena bertentangan dengan pasal 3 dan 4 dari Tractaat London tahun 1824. Atas protes ini G.G. di Betawi menginstruksikan untuk melepaskan monopoli pelayaran antara pulau Jawa dan pulau Lombok.

                Pada akhir abad ke18 selat Lombok sudah menjadi lalulintas perdagangan terbuka antara Australia, Singapura, dan Cina. Inilah yang mendorong raja Lombok mengatur kontak antar masyarakat pantai dengan masyarakat pedalaman, khususnya dalam hubungan perdagangan, dalam bentuk paswara. Dalam paswara-paswara in dibedakan jelas antar warga masyarakat setempat dengan orang asing (wong jabakuta lan wong sunantara).

                Juga dibedakan antara orang Cina dan orang Islam yang berasal dari pulau lain serta orang asing lainnya. Ada lagi paswara yang menentukan hak dan kewajiban pedagang dari luar Lombok yang hendak berhubungan dengan masyarakat pedalaman.

                Dr. Korn dan Liegrinck telah berjasa menghimpun paswara kerajaan Lombok itu dan mengadakan transliterasi dalam Himpunan Lombok I dan Lombok II. Untuk menjalankan ketentuan-ketentuan dalam paswara yang menyangkut kependudukan itu raja memberi wewenang para Syahbandar (disebut Subandar) yang terdiri atas orang melayu, Eropa, Arab, dan Cina. Subandar ini bekerja sehari-hari dalam bangunan khusus di tiap pelabuhan. Mereka berwenang menentukan punggutan cukai, tetapi wajib memberikan utpeti kepada raja. Subandar berkewajiban pulamenertibkan pelayaran, menertibkan transaksi, dan menjadi konsul bagi orang-orang asing, dalam hal ini mereka bertindak atas nama raja.

                Dalam menjalankan tugasnya Subandar didampingi oleh seorang Notaris (istilah sebutan notaris telah digunakan saat itu di Lombok) yang membuat surat-surat perjanjian maupun transaksi dalam perdagangan. Untuk mengawasi pekerjaan Subandar, raja mengangkat “Mata-mata” sebagai lembaga pengawasan berwenang mengadakan evaluasi yang hasilnya dilaporkan kepada raja. Ia mengawasi tugas Subandar pada umumnya, juga memeriksa barang-barang yang keluar-masuk, memberikan surat jalan, dan surat keterangan kelakuan baik. Pedagang yang baik wajib dilindungi oleh Subandar, dan yang tidak baik tidak memenuhi syarat-syarat, membawa barang terlarang, dapat diusir dari pelabuhan. Jika terjadi sebuah kekacauan, Subandar dapat meminta bantuan Perbekel atau Kanca-negara, yang berfungsi Polisionil. Waktu itu surat-surat sudah ditulis dalam huruf Melayu disamping huruf dn bahasa Bali, dan mempergunakan stempel kerajaan.

O

rang luar yang datang keperluan cari pekerjaan, diperiksa oleh Subandar dan petugas kampung. Jika memenuhi syarat, kepala kampung dapat memberi izin tinggal di desa. Jika lewat dari enam bulan tinggal di desa, mereka wajib “Tedunayahan”, memenuhi kewajiban kerja bersama rakyat untuk kepentingan desa pada umumnya. Hasil-hasil pulau Lombok yang merupakan komoditas ekspor waktu itu yang menonjol ialah beras dan ternak kuda, sapi, disamping kacang hijau, telor, dan sarang burung, serta tembakau dan tarum. Yang merupakan barang-barang impor yang menghiasi pasar-pasar di seluruh pelosok Lombok ialah barang industri  seperti kain sutera yang disebut sutera Cina, bahkan ada khusus sutera istimewa yang hanya terdapat di Lombok, disebut sutera Sasak. Ada lagi porselin Cina, garam, minuman keras, candu, dan senjata api. akan tetapi sejak tahun 1877secara resmi Paswara mengenai candu diubah, berupa barang larangan yang masuk ke Lombok, tetapi tidak dilarang masuk ke Karangasem. Demikian juga Paswara melarang adanya perdagangan budak. Yang juga dilarang masuk ke Lombok yaitu : orang jahat, orang menderita, sakit menular, orang yang menjalankan homoseks, orang yang suka melacur, orang suka mabuk, orang yang melarikan istri orang lain, orang penghisap candu, dan orang yang selalu suka buat keributan.

                Perkembangan kota Metaram sejak tahun 1850 dan Cakranegara sejak 1866 sejalan dengan kesejahteraan rakyat, dan meningkatnya jumlah pasar-pasar di seluruh pelosok desa. Sejarah Anak Agung Gde Ngurah Karangasem menjadi raja pada tahun 1872, beliau selalu berupaya untuk menegakkan stabilitas politik. Dalam kerajaannya. Dalam sosial budaya beliau senantiasa mengusahakan adanya toleransi umat beragama, khusunya Umat Hindu Umat Islamyang merupakan mayoritas di Lombok.

 A

da seorang yang ahli berasal dari Sakra bernama Haji Abubakar, terkenal sebagai ahli tabir, ia memberi nasehat kepada beliau agar mengawini seorang keturunan Datuk Selaparang. Dengan ini ketentraman dan kesejahteraan di kerajaan Lombok akan dapat ditegakkan. Di Kali juga terdapat pusat dari keturunan Datuk Selaparang, dan disana ada seorang puteri bernama Denda Fatimah. Inilah yang dipersitri oleh raja yang sejak di puri bernama Denda Nawangsasih (karena rupa puteri ini mirip seperti yang pernah terbayang dalam impian beliau, sebagai bulan yang datang mendekatdan jatuh dipangkuan beliau).

                Denda Nawangsasih melahirkan seorang puteri satu-satunya, yaitu anak Agung Ayu Praba, yang mengamuk dalam menghadapi Belanda di Karang Jangkongtahun 1894. Sejak lahirnya Anak Agung Ayu Praba ini ternyata Lombok menjadi stabil, taman Narmada mulai dibangun, Pura dan Taman Myura dipugar lebih cantik. Sejak itu sikap raja terhadap rakyatnya baik itu mereka orang Bali maupun orang Sasak (Islam) tidak dibeda-bedakan lagi. di Lombok Timur para Prewangsa memerintah rakyatnyamasing-masing, tetapi diawasi oleh seorang Punggawa. Kemudian A.A Gde Ngurah Karangasem mengawini lagi puteri Kalijaga (kemenakan di sepupu dari Denda Nwangsasih) bernama Denda Aminah, dan melahirkan Anak Agung Made Jelantik Barayangwangsa, yang menurun di Puri Pamotan Cakra sekarang.

                Seperti di Puyung, Praya dan Selong maupun di Ampenan dan Tanjung. Juga bagi mereka yang beragama Islam yang hendak naik haji dikeluarkan dana dari lembaga bantuan ini. Ada pula diberitakan, bahwa raja Lombok telah membuka perwakilannya di Jeddah untuk memperhatikan umatIslam dari Lombok yang menunaikan rukun kelima. Perwakilan ini dipimpin oleh Haji Majid dan berhubungan di Jeddah dengan Syeick Djamhuri Hasan. Seorang cucu raja anak dari putera mahkota Anak Agung Ktut Karangasem sewaktu telah menjadi dewasa mohon untuk masuk Islam, ini diperkenankan oleh raja. Cucu beliau ini bernama Raden Sumantri tetapi lebih populer namanya di masyarakat dengan Datuk Pangeran. Inilah sebabnya di pinggir kompleks Puri Cakranegara ada tempat yang diberi nama Istambul, tempat tinggal Datuk Pangeran, dengan sebuah bangunan Masjid yang indah mungil. Di sini telah diperbantukan seorang guru mengajar membaca Al Quran.

Sedang Viral

Menikmati artikel ini? Daftarkan Email Anda untuk Berlangganan

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Tentang Penulis
Artikel Terbaru
27 Apr 2021, 22:09 - Uswatunkudus
21 Mar 2021, 12:42 - Uswatunkudus
21 Mar 2021, 12:42 - Uswatunkudus
21 Mar 2021, 12:41 - Uswatunkudus