Memori Masa Kecil Seorang Introvert

PoV 1

"Takkan ada jawaban yang pasti jika kau tak yakin pada dirimu sendiri. Semua orang akan mengatakan hal yang sama jika kau tak mengenali diri sendiri. Tak usah dengarkan orang lain mengenai dirimu yang seperti itu,seperti ini... Jika kau sampai terpengaruh,semua itu hanya akan menyakiti diri sendiri. Pilah saja mana yang pantas didengar mana yang tidak",kata ibu sambil menghela nafas.

Pagi itu kami sedang berada di tepi laut. Memandang ombak yang bergerak dengan lambat. Jika dilihat dengan seksama ombak di laut ini terkesan menyeramkan. Gerakannya lambat namun suaranya bergemuruh dengan keras. Banyak sekali korban yang tewas akibat terseret maupun tenggelam di laut ini. Apalagi kalau hari libur,banyak sekali orang yang datang ke laut ini. Namun,walaupun begitu laut ini adalah sebuah kenangan,ciri khas,dan sebuah anugerah dari Tuhan untuk kami,masyarakat Tegal.

    **

"Daffa itu bisu atau gimana sih...kalau ditanya diam saja",kata salah seorang tetanggaku saat kami tak sengaja bertemu di laut.

 Aku tak ingat persis apa perkataan selanjutnya. Tapi yang pasti perkataan seperti itu sungguh tak pantas di ucapkan,apalagi dia adalah seorang ibu. Dia bahkan lebih kejam dari seekor harimau.

Sebuah memori yang sampai saat ini belum bisa aku lupakan. Padahal waktu itu aku masih kecil,mungkin belum sekolah. Entah apa jawaban ibuku waktu itu. Tapi aku yakin ibu menjawabnya dengan bijaksana. Sungguh aneh... samar-samar memori itu masih sekelibat datang di pikiranku sampai saat ini.

**

PoV 2

Daffa memang anak lelaki yang pendiam. Dia pintar dan penurut. Entah karena tinggal di desa yang mayoritas orangnya menyukai kebersamaan,gotong royong,dan suasana kekeluargaan yang erat,Daffa justru tumbuh sebagai anak yang berbeda. Banyak orang yang mengatakan dia sombong dan tak punya teman. Jelas mereka semua tak begitu mengenal Daffa. Dia bukan orang seperti itu. Mungkin bisa dikatakan dia anti sosial,tak suka kerumunan dan jarang keluar rumah,pemalu,dll. Namun,itu semua tidak menjadi masalah bagi Daffa. Dia selalu belajar dengan keras sampai tengah malam. Hal itu ia lakukan agar orang lain bisa menghargai orang tuanya. Ia sudah merepotkan orang tuanya dengan segala masalah yang datang silih berganti. Setidaknya dengan belajar dan mendapatkan nilai yang bagus bisa meringankan beban orang tuanya.

**

PoV 1

Aku ingat waktu aku kelas lima SD,aku mengikuti beberapa perlombaan yang diadakan oleh sekolah. Syukurlah aku juara 1,2,dan 3 untuk tiga sesi perlombaan. Aku senang sekali. Begitu pun kedua orangtuaku. Itu kali pertamanya aku mendapatkan piala.

Beberapa hari kemudian entah karena apa,ibuku terlihat berbeda. Ibuku mengatakan hal yang membuat aku berpikir kembali tentang perlombaan kemarin. Dia bilang aku bukanlah siapa-siapa,jadi biasa aja. Nggak usah sombong.

Ibu salah!!. Menurutku sebuah hal yang bahagia walaupun sekecil apapun itu haruslah kita rayakan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itu bukanlah sombong atau apa. Mungkin karena tinggal di desa seperti ini.... Ibu jadi termakan omongan orang. Justru kalau kita menganggapnya hal yang biasa bukankah justru itu yang dinamakan sombong.

Perkataan ibu mungkin baik. Tapi aku tidak suka jika orang lain mengatur hidup kami. Padahal ibu yang mengatakannya kepadaku untuk hidup dalam prinsip.

**

PoV 2

Harga diri tak bisa diganti dengan apapun. Daffa selalu mengutamakan harga diri keluarganya. Dia bukan orang yang suka dikasihani dan  tak gampang menerima bantuan.

 

Berkat itu Daffa tumbuh sebagai anak yang mandiri dan sukses. Dia sekarang menjadi seorang pengusaha ritel di Jakarta. Keluarganya juga ikut pindah ke sana. Mereka masih menjadi orang yang sama. Tetap rendah hati dan bersikap sewajarnya.

Perkataan ibunya ada benarnya juga waktu kecil. "Kamu bukanlah siapa-siapa". Dengan memikirkan hal itu bisa mencegah Daffa untuk tidak bersikap sombong. 

Menikmati artikel ini? Daftarkan Email Anda untuk Berlangganan

Komentar

Anda harus masuk untuk mengirim komentar.

Artikel terkait
Tentang Penulis

Melakukan hal kecil.